Notification

×

Iklan

Indeks Berita


Mahathir Tegaskan Anwar Ibrahim Tak BIsa Jadi PM Malaysia

2 Jul 2020 | 19.29 WIB Last Updated 2020-07-02T12:30:33Z


KUALALUMPUR - Mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menegaskan, Anwar Ibrahim tidak bisa menjadi penerusnya sebagai orang nomor satu Negeri "Jiran". Dalam wawancara yang dilakukan secara daring dengan CNBC’s Street Signs Asia, dia ditanya mengapa tak segera menyerahkan jabatan PM Malaysia kepada Anwar. "Dia tidak populer di kalangan publik Malaysia," ujar Dr M, julukan Mahathir Mohamad, sebagaimana diwartakan Malay Mail Rabu (1/7/2020).

Mahathir menerangkan, Anwar Ibrahim membutuhkan dirinya ketika aliansi Pakatan Harapan menumbangkan koalisi penguasa, Barisan Nasional, pada Mei 2018. Mantan PM Malaysia dua kali itu menerangkan, dukungan dari etnis Melayu amatlah penting bagi partai politik untuk menang pemilu. "Karena dia tidak populer, menjadi pemimpin partai multi-rasial, dia butuh pemimpin yang terkenal bagi Melayu untuk menang," jelasnya. Karena itulah, mantan Ketua Partai Bersatu mengusulkan jalan tengah dengan menjadi perdana menteri interim selama enam bulan. Strategi tersebut diberlakukan agar Pakatan Harapan bisa mengambil kekuasaan dari Perikatan Nasional, yang dipimpin PM Muhyiddin Yassin. "Tawarannya adalah saya menjadi PM untuk ketiga kalinya. Tapi dia tidak setuju. Dia ingin menjadi kandidat PM," jelas Mahathir. Baca juga: Putuskan Hubungan, Mahathir Tolak Bekerja Sama Lagi dengan Anwar Ibrahim "Saya sudah menjanjikan akan mundur setelah enam bulan menjabat. Tapi Anwar tak sepakat. Itu membuat kami sulit bekerja sama," ungkapnya.

Dia berseloroh Anwar Ibrahim, yang adalah Presiden Parti Keadilan Rakyat (PKR), gagal dalam tiga edisi pemilu sebelum dia bergabung. Baru setelah sang veteran bergabung, Pakatan menang pemilu 2018, dan mengalahkan Barisan Nasional yang berkuasa selama 60 tahun terakhir. Pekan lalu kepada Asia Times, Dr M mengatakan keengganannya mendukung Anwar karena tak bisa mengumpulkan cukup dukungan untuk menggoyang pemerintahan Muhyiddin. Kemudian pada Maret, mantan PM yang pernah berkuasa pada 1981-2003 tersebut menyatakan Anwar tak populer karena publik menganggapnya "liberal". Saat itu, politisi yang mundur sebagai PM Malaysia pada Februari lalu menuturkan rakyat Negeri "Jiran" takut liberalisme bisa menggerus hak dan keistimewaan mereka. [kompas]


×
Berita Terbaru Update