Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Wuhan Kota Pertama Virus Corona menjangkit, Sekarang Malah Jadi Kota Teraman Di China Bahkan Dunia

12 Jan 2021 | 17.22 WIB Last Updated 2021-01-13T00:05:25Z

warga wuhan sedang menari nari di taman(net)



NYARINK.COM -- Setahun yang lalu, kota Wuhan di China menjadi salah satu tempat paling menyeramkan di dunia. Sebab, di kota inilah virus corona baru penyebab Covid-19 muncul untuk pertama kali.


Situasi itu memaksa China untuk menerapkan lockdown terhadap kota itu, seakan2 kota wuhan bagai kota mati ditambah Foto-foto mengerikan mengenai korban Covid-19 di kota itu pun membuat panik masyarakat.


Namun, sekarang situasi itu berbalik. Saat Covid-19 telah menjangkiti lebih dari 80 juta orang di seluruh dunia, Wuhan malah kembali menjadi kota yang normal. Para komuter bergerak bebas untuk bekerja. Sementara taman dan promenade tepi sungai ramai dengan pejalan kaki di kota yang bertekad untuk menghapus label sebagai titik nol virus corona.


"Wuhan adalah kota teraman di China sekarang, bahkan di seluruh dunia," kata penduduk berusia 66 tahun Xiong Liansheng.


Liansheng berada di sebuah taman di mana ada puluhan pasangan menari. Beberapa di antara mereka memakai masker wajah.


Para penumpang menuju tempat kerja dan yang lainnya berjalan di sepanjang tepi sungai. Situasi ini sangat kontras dengan negara-negara yang masih dikunci dan dibatasi secara ketat.


"Kesadaran masyarakat Wuhan tentang pencegahan dan pengendalian epidemi sangat tinggi, bahkan cucu saya yang berusia dua tahun akan memakai masker saat keluar," kata Lian sheng.


Setahun yang lalu, pada 11 Januari 2020, China mengonfirmasi kematian pertamanya akibat virus yang ketika itu belum dikenal. Beijing mengonfirmasi seorang pria berusia 61 tahun yang merupakan pelanggan tetap di pasar basah Wuhan yang diduga menjadi ground zero penyebaran virus yang beberapa saat kemudian dikenal dengan Covid-19.


Dua minggu setelah mengonfirmasi kematian pertama, Wuhan dan provinsi sekitarnya diisolasi. Penguncian Wuhan itu berlangsung hingga dua bulan setengah atau tepatnya 76 hari. Warga diminta untuk tetap berada di rumah.


Penguncian itu dirasa sebagai hal yang berhasil, menyebabkan metode ini beberapa kali diterapkan di beberapa kota lainnya di dunia.


Namun China tetap menghadapi kritik di dalam dan luar negeri atas penanganan awal virus tersebut, termasuk upaya untuk membungkam pelapor dan kegagalan melaporkan kasus selama berhari-hari di awal Januari.


Hingga saat ini China mengklaim mampu mengatasi infeksi ini, dengan menahan angka infeksi virus jenis baru itu pada 87 ribu kasus dan 4.634 kematian.


Tetapi baru-baru ini sebuah kluster besar yang baru muncul di provinsi Hebei dan kota Beijing. Hal itu memicu tindakan penguncian terhadap beberapa area di dua wilayah itu. Namun, angka infeksi yang dilaporkan dari sana masih belum sebesar yang terjadi di negara-negara lainnya.(Cnbc/Ink21)



×
Berita Terbaru Update