• Sabtu, 4 Desember 2021

Pernak-Pernik Jelang Nataru Pasokan Terhambat

- Rabu, 10 November 2021 | 11:13 WIB
Lapangan Penumpukan di Terminal Peti Kemas (TPK) Belawan (Dok: Pelindo I)
Lapangan Penumpukan di Terminal Peti Kemas (TPK) Belawan (Dok: Pelindo I)

Jakarta, Nyarink.com - Menyambut Perayaan dan libur Natal dan tahun baru 2022 semakin mendekat. Melihat situasi pelayaran peti kemas saat ini, kegembiraan tahunan itu bisa berujung ambyar, paling tidak dalam kurun enam bulan terakhir.

Pernak-pernik yang selama ini menjadi pelengkap kemeriahan, di toko-toko atau supermarket, terancam tidak tersedia, karena pasokannya terganggu menjelang Nataru (natal dan tahun baru).

Adapun krisis pelayaran kontainer ini telah berlangsung sejak virus corona menerpa pada akhir 2019. Gangguan pasokan terjadi karena pelayaran peti kemas di belahan AS dan Eropa. Sampai derajat tertentu kondisi tetap bertahan, khususnya di Inggris masih dibayangi krisis. Sempat membaik sebentar tapi lebih banyak memburuknya.

Padahal, pelabuhan/terminal yang ada China merupakan destinasi utama bagi operator utama pelayaran peti kemas atau lazim dikenal dengan istilah main line operator (MLO). Banyak pelabuhan atau terminal di Negeri Panda ikut ditutup sejak wabah corona pertama kali merebak di Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada akhir 2019 berikut efek dominonya.

Baca Juga: Plt Dirjen Pendidikan Tinggi Bantah Permendikbudristek Legalkan Zina

Beberapa hub yang disiapkan misalnya Bremerhaven (Jerman), King Abdullah (Arab Saudi), dan Busan (Korea Selatan). Peti kemas yang di-delay ditempatkan sementara di pelabuhan hub di seluruh dunia yang bekerja sama. Mereka kemudian melakukan delay of transit.

Caranya cukup dengan membatalkan (blank) pelayaran pada rute tertentu yang sudah direncanakan. MLO juga melakukan blank sailing atau blanket sailing. Tentu saja ada biayanya. 

Banyak analis memperkirakan di tengah wabah Covid-19 sekitar 6 juta twenty foot equivalent unit (TEU) hilang hingga semester I/2020 akibat pembatalan pengiriman. International Maritime Organisation (IMO) pada awal pandemi pernah mengeluarkan imbauan agar pergerakan kapal tidak perlu dibatasi di tengah wabah corona. Pelabuhan tetap harus dibuka tetapi tetap saja pelayaran menjalankan blanket sailing.

Kelangkaan ruang muat dipicu oleh menumpuknya kapal di pelabuhan-pelabuhan destinasi ekspor Asia, khususnya AS dan Eropa (Inggris) yang antri menunggu kesempatan sandar.

Halaman:

Editor: BonoDaren20

Tags

Artikel Terkait

Terkini

TASPEN Jalankan Roda Bisnis Secara Berkelanjutan

Jumat, 26 November 2021 | 09:35 WIB

Pertumbuhan Ekonomi di Kuartal IV Diperkirakan 5,5-6%

Selasa, 23 November 2021 | 08:37 WIB

Tingkatkan UMKM Lokal Lewat Teknologi

Jumat, 12 November 2021 | 22:00 WIB

Bisnis Tes PCR di Kalangan Pejabat

Jumat, 12 November 2021 | 08:48 WIB

CEG Hadapi Krisis Likuiditas

Rabu, 10 November 2021 | 14:10 WIB

Pernak-Pernik Jelang Nataru Pasokan Terhambat

Rabu, 10 November 2021 | 11:13 WIB

Saham-Saham ini Patut Dicermati

Senin, 8 November 2021 | 19:40 WIB
X